Hadapi Dengan Kepala Dingin Perdebatan Dengan Orangtua Jelang Pernikahan

14 days ago
Share:
Hadapi Dengan Kepala Dingin Perdebatan Dengan Orangtua Jelang Pernikahan

Sudah menjadi rahasia umum bahwa jelang hari pernikahan pasangan calon pengantin, terutama wanita, mudah merasa lelah dan stress. Berbagai hal yang harus sesegera mungkin diselesaikan, bertengkar dengan pasangan, hingga beda pendapat dengan orangtua menjadi hal-hal yang sering terjadi. 


Seringkali, kamu yang lahir di era milenial, memiliki perbedaan pendapat dengan orangtua yang hidup di era sebelumnya. Apa yang menurut orangtua penting, bisa jadi tak penting lagi menurut kamu, begitu pun sebaliknya. Bila tak dihadapi dengan kepala dingin perbedaan pendapat ini bisa mengakibatkan perdebatan tiada akhir padahal hari-H sudah semakin mendekat.


Lalu bagaimana menghadapi hal ini?



Berbagai mitos yang masih sangat diyakini orangtua

Indonesia merupakan negara yang terdiri dari bermacam suku dan budaya. Setiap suku biasanya memiliki kepercayaan sendiri-sendiri wajib dipatuhi. Kamu yang hidup di masa sekarang mungkin tak lagi mempercayai berbagai kepercayaan atau mitos tersebut. Tapi buat orangtua, menganggap sepele hal-hal tersebut bisa berakibat buruk pada masa depan dan kehidupan rumahtanggamu nantinya.


Tidak perlu keras kepala, cari jalan tengah dan pilihlah kemauan orangtua yang bisa diakomodir dan tidak mengganggu jalannya pernikahan. Beri pengertian kepada orangtua untuk mencari ‘win-win solution’ sehingga orangtua tidak merasa disepelekan. Kamu tak mau kan di hari penting dalam hidupmu ini, harus diwarnai dengan perdebatan panjang yang berujung tidak turunnya restu orangtua.


Photo:


Mencantumkan gelar di undangan

Buat kamu dan pasangan tidak penting untuk mencantumkan gelar di depan atau di belakang namamu, tapi buat orangtua itu hal penting, mengingat perjuanganmu dlaam meraihnya. Dan tentu menjadi kebanggaan bagi mereka memiliki anak berpendidikan tinggi. 


Selama kamu bisa menjelaskan dengan baik-baik kepada orangtua dan mereka mau mengerti, maka tidak ada masalah. Tapi kalau mereka kekeuh minta gelar tersebut tetap dicantumkan, yasudah mengalah sajalah. Toh tidak merugikan juga.


Musik pengiring

Musik romantis akustik tentu akan menjadi pengiring pesta malam yang romantis yang bisa kamu nikmati bersama teman-teman. Tapi orangtua menganggap itu terlalu simpel, mereka ingin band pengiring yang meriah yang bisa sekaligus memainkan lagu-lagu lawas. 


Padahal kan ini pernikahan kamu ya, kok jadi mereka yang ingin bernostalgia? Tak ada salahnya mengakomodir permintaan ini dengan mencari bank akustik yang juga bisa memainkan tembang lawas. Selesai masalah. Iya kan?


  


Beda konsep pesta

Kamu dan pasangan ingin pesta kecil yang intimate, sementara orangtua ingin pesta besar-besaran di ballroom. Hmm…kalau ini sudah agak prinsip ya. Tapi pasti bisa kok dicari jalan tengahnya. Katakana kepada orangtua, bahwa pesta besar-besaran hanya akan membuatmu lelah, karena toh sebagian besar tamunya tidak kamu kenal. Lebih baik membuat pesta yang lebih kecil dan kamu bisa menyapa semua tamu yang datang. Belum lagi biaya yang harus dikeluarkan untuk pesta akan jauh lebih besar, lebih baik biaya ini digunakan kamu dan pasangan memulai hidup baru. 


Misalnya orangtua ingin mengundang 3.000 tamu, sementara kamu hanya ingin mengundang 150 tamu saja, kenapa tidak dibuat menjadi 500 tamu. Tidak terlalu kecil, tidak terlalu besar, dan kamu masih bisa bercengkerama dengan tamu-tamu yang datang. 


Jadi, jangan dibuat pusing ya, jadikan hari pernikahanmu menjadi hari yang membahagiakan untuk kamu dan pasangan, juga orangtua. 



Photo: @morden.co @maplecard

Share: